IKRAR
Kami santriwan santriwati Taman Kanak-Kanak Al-Quran
Masjid Lembah Code AL-Mabrur
Demi Baktiku pada Ilahi
Dan Cintaku Kepada AL-Quran Suci
Aku berjanji :
1. Rajin sholat sepanjang hayat
2. Tak lupa mengaji setiap hari
3. Berbakti kepada ayah dan ibu
4. Taat dan hormat kepada guru
5. Menuntut ilmu tiada jemu
6. Setia kawan dan suka memaafkan
===============================================================
Sore itu memang terasa lain buatku. Lelah dan gerah (jawa: sumuk) sudah tak lagi terasa sebagai penyakit yang membuatku lungkrah. Setelah sekitar satu jam setengah-an aku dikerjai dan mengerjai anak-anak yang konyol, ribut, dan menggemaskan. Terkadang aku pun ikut-ikutan konyol, berlagak seperti anak kecil yang menggelikan. Kadang batinku sering mengatai diriku: gila! Aku pun tertawa sendiri ketika sesekali mengingatnya sambil makan, belajar, naik bis atau saat lainnya.
Belum lama kelas kububarkan. Setelah membaca doa dan mengadakan “lomba anteng-antengan” satu per satu santri TKA 1 pulang, sambil tentunya, melakukan ritual cium tangan gurunya: aku! Aku sering membatin… “duh… adakah penghormatan semacam ini layak buatku? “ ^_^ dasar manusia, GR juga aku… (payah!)
Masih dalam dudukku. Aku melihat kertas berwarna merah muda. Di meja paling depan dekat denganku. Aku meraihnya. Membacanya. Sebuah catatan Ikrar santri yang biasanya dibaca menjelang pelajaran dimulai. Anak-anak terkadang membacanya dengan antusias, sambil menjerit-jerit. Ini yang kadang bikin aku kewalahan, penging! Untuk menahan brisiknya, aku sering merapatkan kedua tanganku di telinga. Sambil berlagak kesakitan, dengan mimik yang –boleh jadi- sangat konyol. Alih-alih menahan brisik, tawa anak-anak malah pecah, Ikrar pun tak selesai di baca. Ini yang kadang membuatku jadi sadis ; menyuruh mengulangnya berkali-kali sampai benar dan selesai. Teganya…. :p
Entah kenapa waktu itu aku jadi sangat tertarik dengannya. Beberapa baris kalimat yang tercetak dibingkai kontur hitam itu membuatku bertanya-tanya pada diri. Apakah ikrar/ janji yang aku ajarkan pada anak-anak itu sudah menjadi bagian dari hidupku? Paling tidak, pernahkah aku juga menjadikannya sebagai janji yang –dengan sadar- diucapkan sebagai tekad yang harus aku penuhi??
Dimulai dari janji yang pertama. “Rajin sholat sepanjang hayat“. Ini benar-benar menohok diri saya. Sholat?? Serajin apakah sholatku selama ini? Seberapa seringkah aku meninggalkan kesempatan untuk menjalankannya bersama teman-teman dan warga secara berjamaah? Atau, sedisiplin apakah aku sehingga tidak jarang menjadi masbuk, dan sering menjalankannya tidak di awal waktu….??? Segerombolan pertanyaan memenuhi langit-langit kepalaku.
Sholat, sebagai kunci dari keimanan manusia, meniscayakan kesungguhan dalam menghamba kepadaNya. Ia menjadi salah satu perlambang akan kerendah-hatian manusia di hadapan Pencipta. Hanya sayang, keadaanku jauh dari seharusnya. Sholatku masih identik layaknya rutinitas keseharian yang jarang aku maknai dalam kehidupan. Khusyu adalah kalimat yang –boleh jadi- tidak pernah aku raih dalam sholatku: terlalu susah! Bahkan, sholat terkadang menjadi alat yang ampuh untuk menggenapi pemberontakan batinku atas warna –dari segolongan- agamaku yang terlalu buram dan menyeramkan. Yang terlalu PeDe mengobral Justifikasi sesat dan murtad pada manusia lain (atau minimal diluar kelompoknya). Dalam beberapa hal, aku sering menjadi korbannya. Amat sering, bahkan!
“Tak lupa mengaji setiap hari”. Aku miris. Tidak hanya sekedar lupa. Seringnya aku bahkan menyengaja untuk tidak mengaji. Malas, atau.. entahlah. Aku kembali menanyai masa laluku dari hari itu. Jauh berbeda dengan saat-saat dulu waktu aku masih sering ke madrasah, ke pesantren, atau masih mulangi tetanggaku setiap selesai Maghrib. Ngaji adalah ibadah yang hampir tak bisa dipisahkan. “Selain ayat qouliyah, Allah juga punya ayat kauniyah. Segala detail kehidupan merupakan tanda dari keagunganNya. Mengaji pada hakikatnya adalah sebuah upaya pembacaan atas pesan-pesan Allah. Untuk kemudian mentransformasikannya dalam amal shalih yang harus dikerjakan di setiap detik yang kita jalani“ Aku kembali teringat dengan kata-kata seorang temanku…
Aku melanjutkan ’ekspedisi’ batinku. Sore itu, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di kedalaman keyakinan, yang termanifestasi dalam aktifitas keseharian. Aku, manusia yang sangat jauh dari pantas untuk dimaksud sebagai manusia (sebagai makhluk yang sengaja diciptakan untuk bertakwa). Terlalu jauh untuk dedekati dengan kata Shaleh, apalagi Taqwa!
Pada akhirnya, muncullah sebuah pertanyaan tentang duniaku: Sampai kapan, kawan?
Sore yang sudah sendekala itu akhirnya pecah oleh lantunan Adzan dari corong speaker diatas bangunan masjid. Aku beranjak, mengahiri perenungan singkat dengan sebuah keinginan; menghayati tiap-tiap janji yang kuucapkan bersama santriku di ruang kelas. Bersama si kembar Gandes dan Ganis, Irul, Dira, Yosi, Chindy, En-en, Nisa, Salma, Akbar, Deva, Bella, Adi, serta yang lain. Dan tentu saja, dengan penuh kesadaran akan berusaha untuk menjalaninya dengan tekad yang kuat. Janji, adalah hutang yang harus dibayar! Bismillah….
Lembah Code, 28120